Minggu, 06 Desember 2009

Natal, Rencana Agung Allah

Natal,  Rencana Agung Allah.jpg
DALAM Kitab Ulangan 18: 4-22, antara lain dikatakan tentang akan dibangkitkannya seorang nabi dari tengah bangsa Israel. Penting pula kita perhatikan bahwa apa yang diungkapkan Musa kemu-dian menjadi sebuah nubuatan yang mengacu kepada Yesus Kris-tus. Bahwa dari tengah-tengah bangsa Israel akan dibangkitkan seorang nabi yang luar biasa, ini mengacu pada realita tentang Kristus. Satu fakta bagaimana luar biasanya sebuah Natal. Natal bukan peristiwa kebetulan. Natal adalah peristiwa yang sudah dirancang Allah. Natal bukan sesuatu yang mendadak terselip dalam sejarah, tetapi Natal adalah rencana Allah yang agung bagi manusia. Semakin kita memahami prinsip-prinsip seperti ini semakin tahulah kita bahwa Allah bekerja di dalam sejarah, intervensi ke dalam dengan satu karya yang sangat luar biasa.
Ada apa gerangan latar bela-kang peristiwa kedatangan Sang Juru Selamat itu? Dalam konteks dikatakan bangsa-bangsa di sekitar Israel pada saat ituDALAM Kitab Ulangan 18: 4-22, antara lain dikatakan tentang akan dibangkitkannya seorang nabi dari tengah bangsa Israel. Penting pula kita perhatikan bahwa apa yang diungkapkan Musa kemu-dian menjadi sebuah nubuatan yang mengacu kepada Yesus Kris-tus. Bahwa dari tengah-tengah bangsa Israel akan dibangkitkan seorang nabi yang luar biasa, ini mengacu pada realita tentang Kristus. Satu fakta bagaimana luar biasanya sebuah Natal. Natal bukan peristiwa kebetulan. Natal adalah peristiwa yang sudah dirancang Allah. Natal bukan sesuatu yang mendadak terselip dalam sejarah, tetapi Natal adalah rencana Allah yang agung bagi manusia. Semakin kita memahami prinsip-prinsip seperti ini semakin tahulah kita bahwa Allah bekerja di dalam sejarah, intervensi ke dalam dengan satu karya yang sangat luar biasa.

Ada apa gerangan latar bela-kang peristiwa kedatangan Sang Juru Selamat itu? Dalam konteks dikatakan bangsa-bangsa di sekitar Israel pada saat itu adalah penyembah berhala, suatu yang menyedihkan, menjengkelkan, murka bagi Tuhan. Maka Tuhan berkata kepada Musa: Tetapi kamu, tidak diijinkan Tuhan mela-kukan hal-hal yang demikian (peramal, petenung). Karena itu suatu aib, kemarahan bagi Tuhan.

Musa adalah seorang yang setia, penuh rasa iba, dan cinta kasih, seorang yang dapat mendoakan umatnya dengan kuat. Seorang pendoa syafaat, yang berbicara dengan Allah, bertatap muka dan memantulkan kemuliaan Allah. Musa itu juga dikatakan seorang nabi yang kuat di dalam perkataan dan perbuatannya, karena perka-taannya dan perbuatannya seim-bang. Kemudian dia yang menya-takan kehendak dan tujuan Allah. Dia pula yang meletakkan dasar Perjanjian Lama, yaitu Taurat itu sendiri. Musa yang memulai mem-buka babakan baru hubungan Allah dengan manusia dengan Taurat itu, kemudian ditutup oleh Yesus yang menggenapinya. Kalau awal memulai, maka akhir menutup dengan sempurna.

Oleh karena itu Musa memberi-kan pengharapan-pengharapan tentang keselamatan itu, muncul simbol-simbol daripada persemba-han, simbol-simbol korban. Darah yang harus ditumpahkan untuk menebus dosa, bukan lagi simbol tetapi realita di dalam Yesus, karena Yesus menjadi korban itu sendiri. Kalau imam di jaman Musa menumpahkan darah domba sebagai korban, tetapi Yesus ada-lah imam yang mengorbankan diri-Nya sendiri. Jadi, apa yang dikata-kan Musa, menjadi realita di dalam Yesus. Itu sebab Yesus mengata-kan, “Aku datang bukan untuk meniadakan Taurat tetapi meng-genapinya”. Karena Ia sudah dinu-buatkan mengarah ke sana.
Jadi kita mesti mengerti korelasi kalimat-kalimat Yesus itu di dalam kitab Injil juga untuk menunjukkan keilahian, sekaligus juga menunjuk-kan bahwa Dialah yang terakhir. Dialah yang sempurna dari bilangan kenabian. Dialah imam yang sejati itu, puncak dari segala keimaman. Karena Dia tidak mengorbankan domba untuk menebus dosa orang, tetapi dirinyalah yang menjadi korban. Kemudian Dia adalah raja dari segala raja, raja yang adil, penuh cinta kasih, raja yang akan memerintah dengan cara yang luar biasa.

Mengacu pada Yesus
Jadi, pemenuhan ketiga jabatan itu ada pada diri Yesus. Dan seluruh apa yang dikerjakannya memang sangat luar biasa. Itu sebab Yesus mengatakan: Aku tidak pernah mengatakan apa pun dari diriku sendiri, aku hanya mengatakan apa yang dikatakan oleh Bapa-Ku. Nah itu di dalam garis yang dikatakan oleh Musa, bahwa dia tidak akan pernah berbicara untuk dan atas namanya sendiri, tetapi untuk dan atas nama Tuhan. Bahkan Musa memperban-dingkan dengan beberapa nabi palsu yang akan berbicara untuk dan atas nama dirinya, sekalipun membawa-bawa nama Allah, tetapi memper-jualbelikan kebenaran itu, memutar-balikkan fakta. Dalam Kitab Ulangan itu sudah muncul posisi sang nabi yang sangat kuat, solid, tidak tergantikan oleh apa pun juga. Ini menarik karena tentang siapa nabi yang muncul itu, terjadi perdeba-tan. Tetapi seluruh tanda dan ciri yang dibicarakan Musa sangat jelas, hanya mengacu kepada Yesus.

Oleh karena itu saya kembali mengatakan, Natal bukan suatu peristiwa kebetulan. Natal adalah rencana agung yang didesain Allah. Bahkan di Taman Eden ketika manu-sia berbuat dosa, Tuhan sudah menyatakan janji keselamatan di dalam diri Yesus Kristus yang akan meremukkan kepala ular itu, sekali-pun untuk itu tumit-Nya harus remuk (Kejadian 3: 15). Lalu di Ula-ngan semakin jelas bahwa Dia yang dijanjikan itu, yang akan meremuk-kan kepala ular itu, adalah seorang nabi. Nabi itu kemudian muncul dalam kehidupan sejarah manusia. Kelahiran-Nya luar biasa. Dia me-milih tempat yang sangat seder-hana, yang tidak terbayangkan. Tetapi itu dilakukan di dalam karya yang sangat luar biasa, menyata-kan kecintaan-Nya kepada orang paling bawah di dalam level kehi-dupan. Kalau Allah mau, pasti bisa bikin kelahiran-Nya di istana. Tapi Dia lahir di tempat yang tak layak untuk menunjukkan keberpiha-kan-Nya kepada orang-orang bawah.

Marilah memahami bahwa Natal bukan suatu kebetulan tetapi in-tervensi Allah dalam sejarah hidup manusia. Natal bukan sebuah accident tetapi rencana Allah yang agung. Natal bukan sesuatu yang terjadi terpaksa, dan Kristus merelakan diri-Nya menjadi sama dengan manusia, sehingga di dalam kerangka penebusan untuk menolong manusia menjadi sama dengan manusialah Dia harus lahir sebagai manusia. Tetapi karena kekudusan kesucian meliputi seluruh kehidupan-Nya, maka Dia bukan anak yang lahir karena keinginan biologis pria-wanita sebagai mana lazimnya, tetapi dia lahir oleh Roh Kudus. Dia adalah Allah agave yang turun dan me-nyatakan diri kepada umat kepu-nyaan-Nya. Beruntunglah para gembala, yang dalam kerendahan status sosial-nya, boleh diundang melihat Bayi Kudus itu. Berun-tunglah orang Majus, yang sekali-pun kafir, dan melakukan perjala-nan panjang, boleh menyembah Yesus, bayi Natal itu.

Oleh karena itu, penting untuk kita pikirkan sikap sejati bagaimana menyikapi Natal itu. Natal harus kita sikapi di dalam kesungguhan yang penuh, dan menangkap inti-sarinya. Jangan terjebak kulit atau fenomena. Natal adalah pengge-napan janji yang sudah dikatakan nun jauh sebelumnya, dan terca-tat di Alkitab. Maka ini boleh men-jadi peringatan penting bagi kita bagaimana hidup takut akan Dia, dan melakukan kehendak-Nya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar