Sabtu, 05 Desember 2009

KEDATANGAN TUHAN DAN SIKAP HIDUP KITAZef. 3:14-20; Yes. 12:2-6; Fil. 4:4-7; Luk. 3:7-18

Tema Adven yang fokus utamanya hendak mengungkapkan pengharapan akan kedatangan Tuhan dapat menjadi pengharapan yang kabur. Sebab belum tentu setiap anggota jemaat memiliki kerinduan dan harapan akan kedatangan Tuhan. Mereka bertanya, mengapa kita harus membahas kedatangan Tuhan? Bukankah kita imani bahwa Allah senantiasa hadir dalam kehidupan sehari-hari? Apa bedanya antara kedatangan Tuhan yang ditempatkan pada masa Adven dengan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Untuk menjawab pertanyaan yang tampaknya sederhana tersebut kadang-kadang tidaklah mudah! Bahkan dalam nyanyian di Kidung Jemaat nomor 18 mengungkapkan pengakuan iman jemaat, yaitu bahwa Allah hadir di tengah-tengah jemaatNya saat ibadah berlangsung. Allah yang maha-hadir diimani oleh jemaat senantiasa hadir saat umat melaksanakan kebaktian. Jadi bilamana Allah telah hadir dalam kehidupan atau setiap kebaktian kita, mengapa kita harus secara khusus membahas kedatangan Tuhan di masa Adven, dan berefleksi tentang bagaimana sikap kita untuk menyikapi kedatangan Tuhan tersebut?

Keberadaan Allah yang maha-hadir (omnipresent) tidak pernah absen dalam realitas kehidupan umat manusia. Kemaha-hadiran Allah senantiasa mengisi setiap celah dan ruang di alam semesta termasuk pula dalam kehidupan setiap mahluk dan seluruh ciptaanNya. Sehingga kehidupan di bumi dan alam semesta ini seluruhnya ditopang oleh kemaha-hadiranNya. Di Mat. 10:29-30, Tuhan Yesus berkata: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”. Kehadiran Allah tidak hanya dinyatakan dalam perkara-perkara yang dahsyat, seperti ruang angkasa dengan seluruh galaksi yang tak terbatas. Tetapi juga kehadiran Allah dinyatakan dalam setiap kehidupan burung unggas yang sering dianggap tidak berarti oleh manusia. Walaupun harga 2 ekor burung pipit tersebut hanya seduit, tetapi tidak ada seekorpun yang dapat jatuh ke bumi tanpa kehendak Allah. Demikian pula kepedulian Allah yang disimbolkan dengan sikap kemaha-tahuanNya yang mampu menghitung jumlah rambut di setiap kepala umat manusia. Kemaha-tahuan Allah begitu detil, teliti dan sempurna dalam setiap ciptaanNya. Dia menghadirkan diriNya sehingga seluruh ciptaanNya menjadi hidup dan berarti. Dalam konteks demikian, kita imani bahwa Allah senantiasa hadir dalam setiap hal apakah dalam setiap karya ciptaanNya maupun dalam setiap peristiwa. Namun pada saat yang sama, Allah yang hadir dalam setiap karya ciptaanNya dan setiap peristiwa tetaplah Allah yang bebas dan berdaulat penuh. Sebagai pencipta, Allah tidak pernah terikat dengan karya ciptaanNya. Di sinilah letak perbedaan iman yang theistis dengan pola kepercayaan yang pantheistik. Yang mana dalam kepercayaan yang pantheistik, kehadiran Allah dalam setiap karya ciptaan dianggap bersifat menetap dan statis. Sehingga mereka kemudian memuja atau mengeramatkan benda-benda yang dianggap sebagai representasi dan manifestasi kehadiran Allah. Akibatnya mereka kemudian membatasi kehadiran Allah secara sempit dan terbatas di suatu obyek tertentu saja. Misalnya kehadiran Allah identik dengan suatu pohon, area/lokasi tertentu, atau obyek tertentu. Jadi bilamana Allah hadir di suatu obyek atau lokasi tertentu, maka sikap umat akan cenderung dan berupaya untuk mendatangi tempat atau obyek tersebut. Sebab di luar lokasi atau obyek tersebut tidak dianggap sebagai wilayah kehadiran Allah. Ada wilayah yang dianggap tempat kediaman Allah, dan ada pula wilayah yang kosong dari kehadiran dan manifestasi Allah. Tentunya iman Kristen tidak memiliki pemahaman dan sikap teologis yang demikian. Sebab pemahaman teologis yang mengimani suatu tempat tertentu suci sebagai tempat kediaman Allah sama saja mau mengatakan bahwa Allah itu tidak maha-hadir. Makna ziarah iman ke tempat-tempat yang dianggap suci dalam iman Kristen lebih tepat sebagai ziarah untuk merefleksikan kembali karya keselamatan Allah yang pernah terjadi di tempat atau lokasi tersebut. Karena itu iman Kristen tidak pernah membatasi kehadiran dan manifestasi Allah hanya di suatu lokasi atau wilayah tertentu. Allah yang maha-hadir adalah Allah yang senantiasa hadir dalam setiap tempat dan peristiwa. Sehingga di setiap tempat dan peristiwa setiap umat dipanggil untuk bersikap benar dan kudus. Apalagi saat umat harus menyikapi kehadiran Allah yang paripurna pada hari kedatangan Kristus. Mereka harus mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Allah yang kudus, sebab kekudusanNya akan menghanguskan setiap hal yang najis dan berdosa.

Transendensi Etis-Moral Dalam Kedatangan Tuhan
Struktur kitab Zefanya pasal 3 mengandung paradoks. Di Zef. 3:1-8 Allah yang maha-kudus digambarkan sebagai pribadi ilahi yang mampu melenyapkan dan menghapuskan setiap hal yang jahat, yaitu setiap umat yang berlaku lalim dengan memperkosa hukum Taurat. Tetapi ternyata tidak selama-lamanya Allah bersikap demikian. Dia Allah yang kudus, tetapi juga Allah adalah Tuhan yang pengasih dan penyayang. Sehingga di Zef. 3:9-20 kemudian menyaksikan bagaimana anugerah dan pengampunan Allah yang melampaui seluruh dosa atau kesalahan umat dinyatakan. Di Zef. 3:11, Allah berfirman: Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus”. Kemaha-kudusan Allah tidak pernah berkompromi dengan dosa atau kenajisan umat. Kekudusan Allah selalu menghanguskan setiap dosa dengan hukumanNya. Namun karakter Allah yang penuh kasih juga selalu melampaui setiap kekurangan dan kelemahan umatNya. Seharusnya dalam kedatanganNya yang kudus, Allah selalu melenyapkan dan menghukum. Tetapi karena kasihNya, Allah datang untuk membawa pengampunan dan pemulihan dalam kehidupan umatNya. Kasih Allah lebih agung dari setiap kekurangan dan keberdosaan umat manusia. Dengan kasihNya, Allah mentransendensikan diri sehingga Dia memenuhi kehidupan umat dengan rahmat pengampunanNya. Itu sebabnya dengan kasih-karuniaNya, Allah berkenan menganugerahkan suatu umat yang dapat hidup dengan rendah-hati dan yang bersandar kepada pertolongan Allah semata-mata.

Apabila Allah menyatakan rahmat kasihNya lebih besar dari pada dosa dan kesalahan manusia, bukan berarti umat boleh meresponnya dengan sikap yang meremehkan rahmat Allah tersebut. Di Rom. 6:1-2 rasul Paulus mengingatkan jemaat Roma agar mereka tidak memandang remeh kasih-karunia dengan bertekun dalam perbuatan dosa; yaitu: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Dalam praktek hidup betapa sering umat percaya secara sadar atau tidak sadar menempatkan anugerah keselamatan Allah secara murah. Apabila Alkitab menyaksikan bahwa keselamatan dan anugerah Allah begitu mahal sebab telah ditebus dengan darah yang begitu mahal yaitu darah Anak Allah, umat justru sering menganggapnya sebagai anugerah yang murah (cheap grace). Pengampunan Allah di dalam Kristus sering tidak direspon dengan pertobatan yang riel. Mereka mungkin sangat rajin mengaku dosa di setiap kebaktian Minggu, tetapi juga tetap rajin berbuat dosa selama sepekan. Manakala kita jujur dalam mengkritisi isi doa pengakuan dosa, maka kita akan jumpai jenis dosa yang tidak terlalu berubah dari tahun ke tahun. Padahal tujuan utama dari pengakuan dosa adalah agar kehidupan kita ditandai oleh pembaharuan hidup yang ditopang oleh kasih-karunia dan pengampunan Allah. Bukankah kita sering rajin melakukan doa pengakuan dosa agar dapat terhindar dari hukuman Allah atas dosa-dosa yang tidak pernah secara konsisten kita tinggalkan. Padahal ucapan rasul Paulus tersebut juga ditegaskan oleh surat Ibrani. Penulis surat Ibrani berkata: “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu” (Ibr. 10:26). Rahmat pengampunan Allah sebagai wujud transendensi etis moral dalam kehadiran Allah sering direndahkan menjadi sekedar suatu imanensi berbagai watak manusia yang jahat dan duniawi. Padahal transendensi kasih Allah bukan dimaksudkan untuk menjadi topeng pembenaran umat untuk berbuat dosa. Jadi pengampunan dan kasih Allah sebagai wujud transendensi etis moral dalam kehadiran Allah bertujuan untuk membaharui kehidupan umat secara menyeluruh.

Pembaharuan Yang Menyeluruh

Sikap umat yang menempatkan anugerah keselamatan Allah sekedar suatu anugerah yang murah disebabkan spiritualitas iman yang dibangun secara tambal sulam. Untuk jelasnya kita dapat mengilustrasikannya dengan tindakan merenovasi rumah yang tambal sulam ataukah merenovasi yang total. Hasil perbaikan rumah yang tambal sulam tentu sangat berbeda dengan rumah yang secara total dirobohkan untuk dibangun kembali sesuai rancang bangun yang baru. Rumah yang dibangun secara tambal sulam umumnya masih menggunakan pondasi dan struktur ruang yang sama. Perubahan struktur di rumah tersebut umumnya dipaksakan agar sesuai dengan kebutuhan atau keinginan si pemilik rumah. Sehingga bentuk atau rancangan bangun rumah yang dibangun secara tambal sulam tidaklah mungkin mampu menciptakan iklim atau suasana baru bagi orang-orang yang mendiaminya. Mereka sepertinya tinggal di rumah yang baru, tetapi sebenarnya mereka tetap tinggal dengan suasana yang tetap lama. Demikian pula halnya dengan spiritualitas iman yang tidak mengalami pembaharuan secara kualitatif, tetapi pembaharuan yang sifatnya di permukaan belaka. Sepertinya kita telah mengalami perubahan tinggal di rumah yang baru, tetapi suasana roh kita sebenarnya tetap sama yakni tetap mengikuti pola manusia yang lama. Dalam konteks tersebut tidaklah mengherankan jikalau kedatangan Allah disaksikan hadir secara bersengaja untuk menghancurkan keseluruhan dan tatanan hidup umat manusia. Sebab tatanan dan pola hidup manusia telah begitu rusak, sehingga tidaklah mungkin hanya diberikan suatu terapi atau perbaikan yang sifatnya tambal sulam belaka. Dengan demikian kedatangan Tuhan di akhir zaman atau yang disebut dengan “kiamat” sebenarnya sesuatu hal yang positif dan konstruktif. Sebab melalui kedatangan Kristus tersebut, Allah membaharui seluruh ciptaanNya agar memperoleh suatu tatanan yang sama sekali baru. Kedatangan Tuhan di akhir zaman pada hakikatnya untuk menciptakan ulang langit dan bumi yang baru (Why. 21:1). Pembaharuan kualitatif yang dilaksanakan oleh Allah adalah pembaharuan yang total.

Jika Allah kelak akan datang untuk menciptakan ulang langit dan bumi yang baru, karya keselamatan Allah tersebut seharusnya telah dimulai oleh umat percaya pada masa kekinian. Umat percaya dipanggil untuk berani merombak seluruh paradigma dan sistem spiritualitasnya. Selama umat hanya membuat perbaikan di tingkat permukaan atau renovasi spiritualitas yang sifatnya tambal-sulam, maka umat hanya akan memperoleh suatu bangunan yang tampaknya baru tetapi sama sekali “roh” atau “iklim rohaniahnya” tetap lama. Sehingga umat yang tampaknya telah hidup “baru” tersebut sebenarnya umat yang masih mempertahankan berbagai cela dan dosa dalam kehidupannya. Umat yang demikian tentunya jauh dari rahmat dan keselamatan Allah. Tetapi kepada umat yang mau merendahkan diri dan bertobat, maka Allah berkenan untuk membaharui kehidupan mereka secara total. Di Zef. 3:17 menyaksikan karya keselamatan Allah yang membaharui kehidupan umat secara total. Allah berfirman: “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya. Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela”. Hasil dari suatu renovasi spiritualitas yang menyeluruh adalah sorak-sorai kemenangan sebab telah dijauhkan setiap hal yang mengandung cela. Sebaliknya suatu renovasi yang tambal-sulam umumnya masih “membiarkan” beberapa bagian atau struktur etis-moral yang bercela sebab mereka tidak mampu untuk mengubah atau memperbaikinya. Padahal setitik nila dapat merusak susu sebelanga. Suatu cela dan dosa yang tampak kecil mampu merusak keseluruhan bangunan iman kita.

Pembaharuan Hidup Yang Kualitatif
Karya pembaharuan Allah secara kualitatif berarti pembaharuan ilahi yang memberdayakan setiap bagian atau elemen dalam kepribadian kita yang lemah. Akibat kuasa dosa, beberapa bagian dari kepribadian kita retak di sana-sini, sehingga spiritualitas kita sering berjalan dengan tertatih-tatih atau pincang. Apabila kita tidak mengalami pembaharuan hidup yang kualitatif, maka “kepincangan” (cacat) rohani tersebut akan menjadi suatu gangguan, bahkan juga menjadi suatu halangan. Selaku umat percaya, kita sering dihalangi oleh kelemahan dan kepincangan dalam rohani kita sehingga ziarah iman kita tidak mampu berjalan secara progresif. Dari sudut lahiriah tampaknya kerohanian kita sepertinya sibuk berjalan, tetapi sebenarnya hanya berjalan di tempat. Ziarah iman kita seringkali bergerak secara stagnan. Di tengah-tengah kondisi spiritualitas kita yang demikian, Allah menawarkan suatu pengharapan dan pemulihan. Di Zef. 3:19, Allah berfirman: “Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi”. Dengan anugerahNya, Allah berkenan mengaruniakan pembaharuan hidup yang kualitatif. Pembaharuan hidup yang kualitatif tersebut adalah pulihnya kembali kaki rohani yang pincang dan berhimpunnya kembali umat yang semula hidup terpencar-pencar. Yang mana melalui pemulihan kaki rohani yang pincang dan berhimpunnya kembali umat yang semula terpencar-pencar, umat percaya dapat menikmati suasana kehidupan yang sama sekali baru. Mereka menjadi gesit dan lincah untuk berkaya. Selain itu mereka juga lebih mudah dan cepat untuk bergandengan tangan menyatukan diri sebagai umat yang telah dipulihkan.

Alternatif pembaharuan kualitatif yang lain adalah mungkin mereka tetap pincang dan terpencar-pencar. Tetapi perbedaannya dengan karya pembaharuan kualitatif yang pertama adalah mereka mampu menyikapi kondisi “kepincangan” atau kelemahan dan “keterpencaran” yang ada dengan paradigma iman yang baru. Melalui kekurangan dan kelemahan yang mereka miliki, justru mampu mereka ubah menjadi suatu kesaksian yang mempermuliakan nama Allah. Seperti rasul Paulus sebelum bertobat yang sangat agresif memusuhi umat percaya, tetapi setelah bertobat dia juga tetap agresif. Namun daya agresivitas rasul Paulus telah diperbaharui menjadi sikap yang agresif dalam kasih dan memberitakan Injil keselamatan kepada banyak orang.

Walaupun pola kerja Allah yang membaharui mampu meniadakan atau menghapus setiap bagian yang rusak dan retak dalam kepribadian kita, tetapi Allah juga mampu menggunakan bagian-bagian yang rusak atau retak tersebut untuk menghasilkan suatu keindahan. Seperti kisah batu permata seorang raja yang begitu indah tetapi jatuh secara tidak sengaja, sehingga timbullah retakan yang cukup dalam. Sang raja berupaya untuk memulihkan batu permatanya dengan memanggil para ahli. Tetapi tidak seorang ahli permata yang mampu memulihkan atau menghapus retakan di batu permata tersebut. Akhirnya datanglah seorang yang menyatakan dengan jujur bahwa dia tidak dapat meniadakan retakan di batu permata itu, tetapi dia berjanji akan menciptakan sesuatu yang indah di atas retakan batu permata. Setelah ahli batu permata itu bekerja sekian lama, akhirnya di atas retakan batu permata itu dia mengukir dan memahat sekuntum bunga mawar yang begitu indah. Demikian pula karya pembaharuan Allah secara kualitatif. Beberapa bagian dalam kepribadian kita yang “pincang” atau “patah”, mungkin tidak selalu dipulihkan Allah sebagaimana yang kita harapkan. Tetapi Allah mampu mengubah kekurangan dan kelemahan kita menjadi kekuatanNya. Karena itu tidak setiap doa permohonan untuk tujuan “kebaikan” kita selalu dikabulkan Allah. Sebab melalui doa yang tidak terkabul dengan kelemahan kita tersebut, Allah justru sering memakainya untuk kemuliaanNya. Rasul Paulus, sang hamba Kristus yang setia dan dilimpahi oleh kasih-karunia Allah ternyata tidak selalu mendapatkan apa yang dia doakan. Kelemahan dan kekurangan rasul Paulus yang seperti duri dalam daging dalam kenyataannya tidak dipulihkan oleh Allah. Tetapi akhirnya rasul Paulus mampu menyadari maksud Allah dengan kekurangan dan kelemahan yang tidak dipulihkan, sehingga dia berkata: “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (II Kor. 12:10).

Buah Pertobatan Yang Nyata

Arti kata “pertobatan” berasal dari kata “metanoia” yang sebenarnya menunjuk kepada suatu perubahan pikiran atau sikap hidup yang menyeluruh sehingga seseorang mampu berpaling dari perbuatan dosanya. Namun dalam memahami pengertian “perubahan pikiran atau sikap hidup yang menyeluruh” sebenarnya tetap ditempatkan dalam konteks hidup yang konkret, yaitu pembaharuan relasi seseorang dengan sesama. Panggilan pertobatan yang dikumandangkan oleh Yohanes Pembaptis sebenarnya sederhana, yaitu: Barangsiapa yang memiliki 2 helai baju hendaklah ia membaginya dengan sesama yang tidak memiliki baju. Barangsiapa yang memiliki makanan lebih, baiklah ia mau berbagi dengan mereka yang kekurangan. Orang-orang yang memiliki wewenang untuk menagih pajak diminta untuk tidak lagi menagih di luar ketentuan. Kepada para prajurit yang diberi kepercayaan memanggul senjata dipanggil untuk tidak merampas dan memeras rakyat. Intinya setiap orang juga dipanggil untuk mencukupkan diri dengan gaji yang mereka terima. Bila sikap pertobatan ini diberlakukan, maka umat tidak akan pernah terjerumus dalam berbagai tindakan korup. Namun dalam kehidupan sehari-hari buah pertobatan yang relatif sederhana ini sering tidak terwujud. Sebab salah satu akar dari dosa adalah sikap yang egoistis dan serakah, sehingga umat sering sangat enggan untuk berbagi; justru sebaliknya mereka ingin merebut hak milik orang lain. Dalam konteks tertentu, keserakahan tersebut dapat meluas ke berbagai elemen dan dimensi kehidupan manusia apakah dalam hubungan seksual, wewenang suatu tugas, pengaruh, dan penumpukan ekonomis. Yang mana sikap keserakahan tersebut pada hakikatnya suatu pengingkaran terhadap kedaulatan Allah sebagai pemilik dan penguasa kehidupan. Orang-orang yang serakah juga mengabaikan hakikat diri Allah yang maha-hadir dan maha-tahu. Allah tidak hanya hadir di suatu lokasi atau wilayah tertentu, tetapi Allah hadir juga hadir dalam setiap bagian dan peristiwa kehidupan manusia; termasuk pula di dalam batin manusia yang terdalam. Allah yang maha-hadir (omnipresent) adalah juga Allah yang maha-tahu (omniscience). Sehingga manakala Allah kelak akan datang secara paripurna untuk menghakimi, maka tidak ada seorangpun yang mampu luput dari pengawasan dan pengadilanNya. Untuk tujuan itulah Allah menghadirkan diriNya dalam inkarnasi Kristus agar nilai-nilai Kerajaan Allah yang kudus dan benar diwujudkan di tengah-tengah realitas kehidupan umat manusia.

Sehingga manakala nilai-nilai pertobatan yang dikumandangkan oleh Yohanes Pembaptis dibandingkan dengan nilai-nilai pertobatan yang dinyatakan oleh Kristus, maka kita dapat melihat bahwa esensi pertobatan Yohanes Pembaptis pada prinsipnya hanyalah sebagai pintu masuk ke arah pertobatan yang dikehendaki oleh Kristus. Dalam hal ini Yohanes Pembaptis memberi kesaksian bahwa kedudukan Kristus lebih berkuasa dari pada dirinya. Di Luk. 3:16, Yohanes Pembaptis berkata: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api”. Yang mana baptisan pertobatan Yohanes Pembaptis ditandai dengan air, tetapi baptisan pertobatan dari Kristus akan menggunakan “api” untuk menguji kualitas dan kemurnian hati umat. Dengan perkataan lain, makna pertobatan dari Kristus menuntut kualitas atau tingkat rohaniah yang lebih tinggi dari pada sekedar sikap yang tidak serakah dan sikap egoistis. Apakah umat yang bertobat juga bersedia hidup menurut nilai-nilai dan sistem Kerajaan Allah yang berpusat kepada Kristus? Apakah umat percaya menjadikan Kristus sebagai satu-satunya penguasa atas hidup mereka, sehingga mereka bersedia dikendalikan dan diperintah oleh kuasa kasihNya? Bilamana umat bersedia diperintah dan dikendalikan oleh Kristus, maka umat percaya seharusnya mengakui keTuhanan Allah yang hadir dalam setiap bidang, peristiwa dan dimensi kehidupan yakni dengan pembaharuan hidup yang total dan kualitatif. Pembaharuan hidup yang total dan kualitatif adalah sikap hidup yang kudus dan benar di hadapan Allah.

Panggilan

Kedatangan Tuhan Yesus pada akhir zaman akan dapat disikapi secara benar jikalau setiap umat percaya selalu konsisten memberlakukan nilai-nilai Kerajaan Allah sebagaimana yang dinyatakan dalam hidup Kristus di masa kini. Nilai masa kini bukan sekedar menunjuk kepada suatu realitas hidup yang nyata. Tetapi masa kini merupakan bagian yang menentukan keseluruhan sikap kita di masa depan. Bila di masa kini kita mengabaikan nilai-nilai dan realitas Kerajaan Allah, maka dapat dipastikan tidaklah mungkin kita dapat menerima anugerah keselamatan yang paripurna di masa mendatang. Dengan perspektif “kekinian” tersebut, maka setiap hari seharusnya dihayati oleh umat percaya sebagai perjalanan ziarah iman yang ditandai oleh pertobatan dan pembaharuan hidup. Sehingga sikap umat percaya dalam menantikan kedatangan Tuhan senantiasa ditandai oleh sikap yang penuh dengan sukacita, sebab kehidupan mereka sepenuhnya dikuasai oleh damai-sejahtera Allah yang melampaui segala akal dan pengertian manusiawi kita. Rasul Paulus berkata: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (Fil. 4:4-5). Bukankah sikap sukacita yang dipenuhi oleh damai-sejahtera Kristus juga merupakan enersi spiritualitas yang mamampukan kita untuk mengalami proses pembaharuan hidup secara menyeluruh dan kualitatif? Bagaimanakah sikap saudara dalam menghayati makna kedatangan Kristus yang serba tidak terduga dan tiba-tiba? Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar